Contoh Abstrak

December 14, 2012

ABSTRAK

 

Penelitian ini berjudul “Unsur Intrinsik Novel Dia, Tanpa Aku Karya Esti Kinasih”. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tema, amanat, alur, latar, sudut pandang, tokoh, dan penggambarannya pada novel Dia, Tanpa Aku. Sumber data penelitian ini adalah novel Dia, Tanpa Aku karya Esti Kinasih yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2008. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumenter. Metode dokumenter adalah metode yang menganalisis karya-karya yang berbentuk dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumenter dengan dokumen yang berupa karya sastra novel Dia, Tanpa Aku karya Esti Kinasih. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan data dan menyesuaikannya dengan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema novel ini adalah ketulusan dalam cinta. Amanat  novel ini adalah tidak pantas menyalahkan orang lain terhadap kesalahan yang tidak diperbuat. Tokoh-tokoh dalam novel ini: Ronald (utama) dengan watak sayang kepada saudara, gigih, romantis dan setia, tidak takut pada siapa pun jika merasa benar, humoris dan sedikit jahil; Reinald yang memiliki watak sayang kepada saudara, tidak konsisten, pelindung, protektif, keras kepala, dan tabah; Citra yang memiliki watak usil, polos, dan menyukai keisengan; dan Andika yang berwatak dewasa, setia kawan, dan realistis. Semua tokoh dilukis dengan teknik dramatik, kecuali Reinald yang juga dilukiskan dengan teknik ekspositori. Berdasarkan kriteria urutan waktu, novel Dia, Tanpa Aku memiliki plot lurus (progresif/maju), berdasarkan kriteria urutan jumlah, novel Dia, Tanpa Aku memiliki plot tunggal, dan berdasarkan kriteria urutan kepadatan, novel Dia, Tanpa Aku memiliki plot longgar. Latar tempat dalam novel Dia, Tanpa Aku adalah di depan sekolah, di sekolah, di rumah, toko baju, di jalan perumahan, dan di perkuburan; latar waktu adalah pada siang hari, pagi hari, pada masa orientasi sekolah, malam hari, sore hari, subuh hari, dan pada dini hari; latar sosial terjadi pada di lingkungan pelajar di Jakarta, di lingkungan keluarga menengah ke bawah, dan di lingkungan keyakinan masyarakat Indonesia yang masih percaya pada tanda-tanda orang akan meninggal dunia. Novel Dia, Tanpa Aku menggunakan sudut pandang orang ketiga (dia) mahatahu. Sudut pandang ini digunakan dari awal hingga akhir cerita.

Apresiasi Pementasan Drama XI IS 1

November 23, 2010

Ini tentang melakukan sesuatu. Dan mereka sudah melakukan sesuatu.

Betapa banyak orang yang menolak untuk melakukan sesuatu padahal mereka mampu. Tetapi tidak yang terjadi Kelas XI IS 1, kelas praktikan saya, yang beberapa waktu lalu berhasil melakukan sesuatu. Saya harus melakukan standing ovation untuk menghormati mereka.

Tugas pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia: pementasan drama. Menarik tetapi perlu kecermatan untuk menyelesaikannya dengan baik. Paling tidak, baik untuk mereka sendiri. Mereka mendapat ilmu (mudah-mudahan), pengalaman berakting, dan lebih mengenal teman-teman sendiri.

Tiga kelompok, tiga naskah, tiga penampilan. Masing-masing memiliki konflik, tokoh sentral, kelebihan dan kekurangan sendiri. Mereka menciptakan cerita mereka sendiri. Cukup kreatif untuk tingkat Sekolah Menengah Atas. Misalnya kelompok 1 yang bercerita tentang kehidupan siswa baru di sekolah. Cerita ini dimulai dari kedatangan siswa baru pindahan dari kota. Langsung terjadi ketertarikan antara siswa lama terhadap siswa baru tersebut. Ironisnya, orangtua mereka malah saling jatuh cinta dan berniat segera menikah. Hubungan siswa lama dan siswa baru yang baru saja tumbuh harus langsung mati.

Kelompok ini berakting dengan cukup baik. Paling tidak penonton bisa mengerti alur dramanya. Yang disayangkan adalah penanganan tata panggung dan properti yang masih kasar. Mereka tidak mempersiapkan properti yang permanen sehingga tidak perlu “angkat meja” dan “angkat kursi” di tengah-tengah pementasan. Selain itu, urusan vokal pun masih sedikit kurang. Mungkin hal itu bisa dimaklumi karena latihan vokal yang masih kurang.

Kelompok 2 memiliki ide cerita yang menarik. Mereka melakukan plesetan Upin dan Ipin yang diubah menjadi Udin dan Idin. Ceritanya cukup lucu dan mereka bisa berakting layaknya si kecil Upin dan Ipin. Padahal masalah dialek dan bahasa tidak bisa disepelekan.

Namun urusan vokal juga masih menganggu. Suara dan artikulasi yang kurang jelas membuat cerita kurang diikuti. Padahal jika mereka bisa mengatasi hal tersebut, penampilan mereka positif menarik. Akan tetapi, untuk penampilan-tanpa-latihan hal ini masih saja luar biasa. Tidak pantas rasanya jika mereka menolak pentas awalnya.

Selanjutnya adalah penampilan kelompok 3 yang mementaskan drama pada esok harinya. Mereka mengaku tidak mempersiapkan naskah dan berakting dengan improvisasi. Spektakuler. Mereka berhasil membuat cerita tentang dua orang bandit sekolah yang bolak-balik dihukum guru, kemudian dikeluarkan dan dibuat kapok. Alur yang ringan dan sederhana mampu membuat penonton cermat mengikuti pementasannya. Ada aktor-aktor yang mampu memerankan tokoh dengan sedemikian rupa.

Untuk teknik pementasan, kelompok 3 sedikit mengabaikan teknik gerak dan blocking. Kejadian yang mirip berat sebelah karena mereka fokus menggunakan satu sisi panggung saja juga terjadi. Padahal hal ini perlu dihindari. Sekalipun hal-hal yang sifatnya teknikal belum begitu dikuasai oleh kelas ini, mereka sudah menampilkan sesuatu hal yang baik.

Mereka sangat baik untuk ukuran pementasan yang kurang latihan. Mungkin hanya sekali dua kali latihan atau malah tidak sama sekali, berusaha mengalahkan kesibukan sekolah dan ekstrakurikuler mereka. Poinnya adalah ini tugas sekolah yang tidak terfokus pada skor saja, namun lebih menitikberatkan kekompakan dan hal-hal menyenangkan. Saya memberikan apresiasi yang luar biasa untuk mereka yang mau melakukan sesuatu.

Teruslah berkarya XI IS 1 SMAN 3 Banda Aceh.^_^V

With Love,

Humaira Anwar

(Mahasiswa Gemasastrin Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala, Anggota Teater Gemasastrin, Anggota pasif UKM Shorinji Kempo Universitas Syiah Kuala, Anggota pasif Forum Lingkar Pena Aceh, Tentor aktif Sony Sugema College Banda Aceh, guru praktikan SMAN 3 Banda Aceh)

Note: Kesibukan tugas kuliah dan kehirukpikukan Hari Raya Idul Adha membuat saya “menunda” tulisan ini. Mohon dimaafkan.

Duga

June 3, 2010

Minibus itu berhenti lagi. Yani menggerutu dalam hati. Memang inilah nasib memakai jasa minibus. Sang supir akan dengan seenak hati menghentikan minibus dimanapun dia suka untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Sedangkan nasib penumpang-penumpang yang mempunyai tujuan sampai akhir, mau tidak mau harus meng-ikhlas-kan perjalanannya lebih lama.

Seperti Yani. Dia sudah berkali-kali melihat arlojinya, memastikan pada pukul berapa dia akan sampai ke tujuan. Sebenarnya dia sudah tidak tahan berada di dalam minibus ini lama-lama. Posisi tempat duduk Yani lah penyebabnya. Memang Yani berada di sebelah jendela samping minibus, tetapi jendela itu sudah macet sehingga tidak bisa dibuka lagi. Jadilah dia sedari tadi bermandikan keringatnya sendiri. Suhu udara khas siang hari memanaskan badan serta emosinya.

Dengan gondok, Yani mengipasinya wajahnya dengan buku tipis yang tadi ditemukannya di dalam tas. Ingin sekali dia berteriak kencang di telinga supir agar segera menjalankan minibus. Dilihat ke arah mana pun, tidak ada calon penumpang. Akan tetapi si supir tetap ngotot menunggu. Mungkin dia mengira tiba-tiba akan ada penumpang yang turun dari langit. Berulang kali Yani mendecak kesal.

“Udah lah. Sabar aja, kenapa sih?” kata Kak Meli, kakak Yani yang juga menjadi teman perjalanan Yani hari ini.

“Ya ampun, panas banget! Supirnya kok nggak peka banget sih. Memangnya yang punya kepentingan dia aja.” ucap Yani geram. Tangannya masih sibuk mengipas.

Kak Meli tidak menyahut. Yani menoleh dan mendapati kakaknya duduk bersandar dengan mata tertutup. Posisi bagus untuk tidur.

“Ya ampun, Kak. Kok bisa-bisanya tidur, sih?” cerca Yani tak percaya.

“Daripada ngomel-ngomel nggak jelas kayak kamu.” sahut Kak Meli tanpa membuka kelopak matanya. Yani berdecak sekali lagi. Beribu sumpah serapah telah bergerumul di otaknya.

Minibus itu belum lagi bergerak. Rupanya supir melihat calon penumpang yang jaraknya masih sekitar seratus meter di depan. Yani mengikuti arah pandangan sang supir. Menurut Yani, memikirkan selain panasnya hawa udara saat ini akan membuat emosinya yang dari tadi mau meledak sedikit menurun.

Ketika sudah agak dekat, Yani bisa melihat wajah-wajah calon penumpang itu. Ada lima orang. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Sepertinya umur mereka tidak berbeda jauh dari Yani. Paling tidak Yani masih lebih muda setahun atau dua tahun. Begitu melihat rombongan yang sepertinya tanpa hijab itu, otak Yani sudah dipenuhi pikiran-pikiran lain.

Mereka sudah menaiki minibus dan menempati deretan bangku belakang. Tempat duduk mereka persis di belakang tempat duduk Yani dan Kak Meli. Yani dan setidaknya, Kak Meli, bisa mendengar pembicaraan mereka. Minibus mulai berjalan pelan.

“Untung dapat minibus yang kosong. Kalau nggak, kita bisa aja nongkrong di pinggir jalan sampai sore.” tutur salah satu dari mereka, laki-laki yang rambutnya agak gondrong.

“Elu sih Sam. Udah minjem mobil tua bokap, pastiin mesinnya oke kek. Malah mogok.” ujar yang perempuan yang memakai baju kuning, menyenggol tangan laki-laki yang rambutnya dicat merah.

“Lho, bukannya lo yang ngotot berangkatnya hari ini? Seharusnya hari ini mobil itu gue bawa ke bengkel dulu.” elak laki-laki yang dipanggil Sam.

“Udah deh. Jangan pada nyalah-nyalahin. Ocha, ntar kalau udah mau sampai, kasih tau ya. Lo kan yang paling hafal tempatnya.” ujar laki-laki yang memakai kaus putih. Sebagian bajunya sudah basah dengan keringat.

Yani sudah duduk tenang sekarang. Dia ingin mendengar lebih banyak lagi. Dari pembicaraan tadi, Yani sudah mengambil kesimpulan bahwa mereka hendak ke suatu tempat dengan mengendarai mobil ayah Sam. Namun mobil tersebut mogok sehingga mereka harus melanjutkan perjalanan dengan minibus ini.

Lalu rombongan itu mulai berbicara tentang sesuatu yang tak bisa disimpulkan oleh Yani. Sepertinya tentang acara otomotif yang hebat.

“Heh, jangan suka nguping pembicaraan orang.” Kak Meli menegur Yani pelan.

“Sssttt. Enak aja nguping. Menyimak, tau.” bela Yani tak kalah pelan. Dia tidak berhenti mendengar pembicaraan di belakang.

“Memangnya apa untungnya sih, tau urusan orang lain? Dasar Miss want to know.” cecar Kak Meli tajam. Yani sampai menjadi berubah pikiran mendengar kalimat kakaknya. Wajahnya cemberut.

“Kak, taruhan deh. Pasti yang belakang itu jenis anak-anak jaman sekarang yang hobinya hura-hura. Liat tuh, mereka berani pergi dengan lawan jenis. Kalau aku yang kayak gitu, duluan digorok mama dulu deh.” kata Yani tak lama. Wajahnya dibuat seekspresif mungkin.

“Kok bisa kamu ngomong gitu?” tanya Kak Meli tak begitu peduli.

“Liat aja gaya mereka, omongan, segala macam. Ketahuan banget, lagi. Sifat khas dari mereka, yang aku tahu, sombong, semau gue, sengak, hura-hura, foya-foya, nggak punya rasa hormat. Pokoknya yang jelek-jelek deh.” tutur Yani pedas.

“Pikiran kamu kok jahat banget sih? Kakak bilang ya, nggak semua orang sama yang seperti kamu pikirkan. Setiap orang itu, sekalipun terlihat banyak kekurangannya saja, pasti punya kekurangan dan kelebihan. Kamu jangan berburuk sangka gitu dong. Lama-lama kamu jadi orang pesimis, lho. Kalau kamu berburuk sangka sama orang, orang juga bakal berburuk sangka sama kamu. Kamu mau, disangka orang sebagai anak yang bukan-bukan?” ucap Kak Meli.

“Tentu aja enggak.” Jawab Yani cepat.

“Kalau gitu jangan pernah lagi berburuk sangka sama orang. Ingat Yan, buruk sangka itu nggak ada enaknya. Malah bikin dosa.” sambung Kak Meli lagi.

Yani tidak begitu saja berbesar hati mendengar nasihat kakaknya. Lama setelah itu, dia malah berujar, “tapi kalau untuk anak-anak di belakang itu, aku yakin banget.”

Kak Meli menghela nafas berat. “Kamu kipas-kipas lagi aja deh. Jangan bahas itu lagi. Susah kalau ngomong sama anak yang keras kepala kayak kamu.” Kak Meli mengambil posisi tidurnya  kembali.

Yani sedikit tidak puas dikatakan sebagai anak keras kepala oleh kakaknya. Begitu melihat kakaknya sudah tak memberikan tanda-tanda untuk membuka mata lagi, Yani memasang telinganya lagi. Dia mendengar rombongan belakang sedang membicarakan hasil rapor masing-masing.

Pasti mereka bodoh-bodoh. Mereka punya tampang malas belajar semua. Apalagi yang rambutnya merah! Batin Yani.

“Gila, nilai gue jeblok. Gue dihukum nggak boleh keluar malam lagi. Merana banget deh.” tukas laki-laki gondrong.

“Sama. Uang saku gue malah dipotong. Untung aja untuk acara hari ini gue masih diijinin.” celutuk perempuan berkawat gigi.

“Kalian gimana sih, udah berteman sama para juara paralel. Bukannya tambah pinter, eh malah dapat nilai jeblok. Elu juga Dit, rumah lo kan dekat sama rumah Sam. Bukannya belajar sama-sama.” kata perempuan berkaus kuning. Laki-laki gondrong itu mendesah keras.

Yani membetulkan posisi duduknya lagi. Salah duga aku! Pekiknya dalam hati. Yani jadi malu sendiri. Untung saja dugaannya itu tidak diberitahukan kepada Kak Meli. Kalau tidak, pasti akan ditertawakan Kak Meli.

Supir sepertinya puas dengan penuhnya bangku penumpang sehingga laju minibus ini lebih cepat. Hawa panas yang tadi dirasakan Yani jadi tak terasa lagi. Selain rombongan di belakang dan Yani, semua penumpang tertidur. Yani melirik arlojinya. Dia dan kakaknya akan tiba mungkin sekitar satu jam lagi.

Seperempat jam kemudian, perempuan berkaus kuning dari rombongan belakang berujar keras, “kiri, Pak!”

Yani menoleh ke belakang. Begitu minibus berhenti, Kak Meli sudah terbangun. “Mereka mau turun?” tanyanya.

Yani merasa tidak perlu menjawabnya. Dia malah melihat ke arah luar jendela, penasaran pada tempat tujuan rombongan itu. Begitu melihat ke arah sebelah kanan sana, Yani mellihat ada lapangan yang sudah didirikan stan-stan yang lumayan besar. Di setiap stan ada banyak jenis mobil yang dipamerkan. Setiap mobil sepertinya sudah dimodifikasi. Namun sepertinya belum banyak pengunjung. Yani membaca spanduk besar yang berada tak jauh darinya.

“’Pameran Modifikasi Mobil Terbesar se-Provinsi’. Wah,  wah. Acara hebat, kita kok nggak tau ya?” komentar Kak Meli.

Penumpang belakang sudah turun. Laki-laki berambut merah membayar ongkos kepada supir. Sedangkan keempat lainnya mendekati seorang laki-laki paruh baya yang kelihatan modis tak jauh dari situ.

“Pak Setooo.” sapa mereka agak bersemangat. Lalu mereka satu persatu sibuk menyalam dan menciumi punggung tangan bapak itu.

“Rupanya jadi juga kalian kerja di sini. Nggak takut liburannya semesternya nggak asyik?” tanya bapak itu ramah kepada mereka.

“Enggak, Pak. Malah kami senang. Selain dapat gaji, bisa liat pameran. Biasanya liburan ngabisin duit, eh sekarang malah dapat duit. Ya nggak, guys?” celutuk perempuan berkawat gigi. Yang lain, ditambah laki-laki berambut merah yang sudah selesai membayar, mengiyakan dengan semangat.

Minibus itu sekarang enggan berjalan lagi. Lagi-lagi sang supir ngotot akan mencari calon penumpang. Rombongan tadi masih asyik saja berceloteh riang dengan bapak yang dipanggil Pak Seto itu. Yani mendesah panjang. Matanya terus-terusan memandangi rombongan. Malah perempuan berkaus kuning menyadari pandangannya. Dia hanya tersenyum membalas pandangan Yani. Yani jadi salah tingkah.

“’Sombong, semau gue, sengak, hura-hura, foya-foya, nggak punya rasa hormat’.” ulang Kak Meli mengutip kalimat Yani. “Kayaknya kamu benar-benar harus belajar agar nggak terlalu sering berburuk sangka, deh. Karena kakak lihat, mereka nggak seperti itu.” tukas Kak Meli tajam. Dia rupanya juga melihat dan mendengar apa yang dilakukan rombongan itu.

Yani menekuk wajahnya. Sebenarnya dia malu sekali. Dugaannya terhadap rombongan itu, sejauh ini, sama sekali salah. Apa benar dia suka berburuk sangka dan langsung menilai orang dari penampilannya saja. Jika memang benar, sebaiknya kebiasaan itu harus dienyahkan. Kalau tidak mau menelan kemaluan yang lebih banyak. Apalagi di depan Kak Meli.

Minibus itu masih belum berjalan. Hawa panas kembali membuncah ke dalam kendaraan tersebut. Kak Meli duduk terkantuk-kantuk. Sedangkan Yani kembali sibuk mengipasi dirinya lagi.*

*cerpen “Duga” yang dimuat di antologi sastra “Lelaki di Gerbang Kampus” diterbitkan oleh Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala.

Detektif Pinggir Jalan

March 4, 2010

Ada keluarga baru yang pindah ke sebelah rumah Disha. Kabarnya sih, pasangan pengantin baru. Disha langsung membayangkan seorang wanita karir yang anggun dan suaminya yang gagah dan mapan. Tapi ketika pasangan itu datang ke rumah Disha—dalam rangka mengucapkan salam kepada tetangga baru—mereka masih muda kok. Si suami umurnya masih 26 tahun. Dia bekerja sebagai dosen di univesitas yang sama dengan universitas Disha, tetapi di fakultas lain. Sedangkan istrinya—yang bernama Maisarah—masih mahasiswa S1. Umur Maisarah hanya setahun lebih tua dari Disha. Melihat Maisarah mengingatkan Disha akan wanita-wanita Arab yang berkerudung lebar dan menutupi seluruh tubuhnya dengan kain. Sebenarnya Disha sangat anti dengan orang-orang yang gaya berpakaiannya seperti itu. Tapi melihat wajah teduh Maisarah, Disha jadi berubah pikiran.

Hari ini Disha melengos ketika mendapati rumahnya terkunci. Duh, mama lama banget pulangnya sih. Nggak biasa-biasanya belanja tapi lupa nitip kunci rumah gini, batinnya resah. Sudah jam dua belas, tetapi mama belum kelihatan batang hidungnya. Karena tidak sabar menunggu di teras rumah, Disha akhirnya berjalan mondar-mandir di jalan depan rumah. Dia tidak menyadari Maisarah berjalan pulang.

“Assalamu `alaikum, Sha. Kok nggak masuk ke rumah?” sapa Maisarah lembut ketika mendekati Disha.

“Oh, hai Sarah. Mama pergi, nggak ninggalin kunci. Aku nggak bisa masuk rumah nih.” jawab Disha mencoba ramah. Walaupun Sarah itu sudah bisa dianggap ibu rumah tangga, paling tidak dia masih berumur 21 tahun. Usianya tak jauh berbeda dengan Disha.

“Masuk ke rumahku aja yuk. Kan di sini panas.” Ajaknya Sarah. Disha menimbang sejenak. Benar juga sih, dari tadi dia kepanasan. Akhirnya Disha memasuki rumah Sarah.

Rumah Sarah lebih kecil dari rumah keluarga Disha, walau sama-sama bertingkat dua. Tidak ada sofa di ruang tamunya, hanya sebuah meja dan satu set kursi dari kayu. Disebelah ruang tamu ada ruang keluarga yang bersambung dengan dapur. Di ruang keluarga, ada sebuah foto besar Sarah dan suaminya di dalam pigura cantik. Di bawah foto itu ada foto-foto yang ukurannya lebih kecil. Jika melihat ekspresi wajah mereka, sepertinya Sarah dan suaminya adalah pasangan kompak plus gokil.

“Itu foto kami di rumah keluarga Mas Pandu,” ucap Sarah, dia baru saja dari dapur sambil membawa dua gelas minuman. “keluarga Mas Pandu itu keluarga besar. Aku paling senang kalau pulang ke sana. Mas Pandu punya banyak keponakan.”

“Memangnya kalian sebelum nikah, pacarannya berapa lama sih? Kayaknya udah akrab banget.” tanya Disha. Sarah mengernyit.

“Kami nikah sekitar tiga bulan yang lalu, sebelumnya aku nggak pernah kenal dia.” jelasnya. Kali ini Disha mengernyit.

“Trus kok bisa nikah?”

“Dulu murabbiku nanya, apakah aku siap nikah atau tidak. Rupanya ada seseorang yang melamarku lewat murabbiku. Setelah istikarah, aku menerima lamaran Mas Pandu.”

Disha ingin menanyakan apa itu murabbi dan istikarah, namun suara dering telepon mengurungkan niatnya. Sarah menjawab telepon itu.

Suamimu?” tanya Disha ketika Sarah menutup teleponnya. Dia mengangguk.

“Kanda… eh, Mas Pandu ada jadwal mengajar sampai nanti sore. Katanya aku tinggal di rumah saja sampai dia pulang, jangan keluar rumah.” ujar Sarah.

“Lho? Kalo kamu ada perlu dan mesti keluar gimana?” tanya Disha heran. Sarah tersenyum dan mengatakan insya Allah dia tidak perlu keluar sampai nanti sore.

“Eh, udah azan, shalat yuk.” ajak Sarah.

Disha menarik kedua ujung bibirnya dan berkata, “Lagi M.”

# # #

Disha sedang membaca buku Agatha Cristy ketika mendengar suara menggelegar dari sebelah rumah,

“Dinda!”

Disha langsung bisa menyimpulkan suara itu merupakan suara suami Sarah, Si Pandu itu. Tapi yang membuat Disha kaget dan heran mengapa Si Pandu itu berteriak. Disha menyibak gorden jendela dan berusaha melihat kepada jendela-jendela rumah pengantin baru. Tak terjadi apa-apa.

Baru saja Disha berbalik dan mulai membaca kembali ketika sayup-sayup terdengar suara orang marah-marah. Disha kembali menyibak gordennya. Masih tak terlihat apa-apa, tetapi suara marah-marah makin jelas terdengar.

“… jangan ditingalin dong. Coba kalau nggak cepet-cepet, pasti udah rusak…”

“Maaf, Kanda. Tadi Dinda ke belakang sebentar. Trus kelupaan…”

“Itu dia makanya. Lain kali kerjain sesuatu itu satu-satu…”

Disha melongo. Si Pandu itu marah-marah kepada istrinya? Kok tega banget sih. Istrinya patuh dan baik begitu, malah diteriaki. Atau apa mungkin suaminya termasuk orang yang kasar ya? Disha menggeleng lalu melanjutkan lagi membaca buku.

Sore hari setelah kejadian Si Pandu marah-marah, Disha melihat Sarah masih oke-oke saja. Padahal di dalam bayangan Disha, Sarah mungkin sudah dipukuli oleh Si Pandu itu karena keteledoran-entah-apa. Pikiran Disha sudah dipenuhi oleh pikiran-pikiran liar.

Saat ini Disha baru saja pulang dari kampus. Dia sedang menelusuri jalan demi jalan agar sampai ke rumahnya. Sudah sore. Azan ashar sudah berkumandang sejam yang lalu. Ketika dia sudah sampai ke mulut jalan depan rumahnya, Disha memicingkan matanya ke arah rumah Sarah. Dia berharap ada kejadian luar biasa ketika dia melewati rumah tersebut.

Disha sudah hampir membuka pintu pagar rumahnya sendiri, namun tidak ada kejadian istimewa dari rumah berlantai dua itu. Ketika Disha sudah menyerah untuk menunggu, tiba-tiba suara menggelegar itu terdengar lagi,

“Dinda!”

Lalu disusul suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Tak lama ada langkah kaki kedua yang menyusul menaiki tangga sama bergegasnya seperti langkah kaki pertama. Kemudian tak terdengar apa-apa lagi.

Jantung Disha berdetak cepat. Dia berdiri mematung di depan pagar rumahnya, menghadap ke arah rumah Sarah. Dia sudah membayangkan kejadian yang bukan-bukan. Sarah dalam bahaya! Suaminya pasti sedang memperlakukan Sarah dengan kasar. Disha ingin sekali menolong Sarah dari cengkeraman suaminya itu. Tapi apa daya, dia mungkin sama lemahnya seperti Sarah. Dia tidak berani bertindak sendiri.

Disha memandang rumahnya. Oya, mungkin ada papa di rumah. Lalu Disha berlari memasuki rumah dengan cepat. Tidak didapatinya satu manusia pun di ruang tamu. Begitu juga ruang keluarga, dapur, garasi, dan kamar mandi. Akhirnya Disha memasuki kamar mama-papanya. Hanya ada mama yang belum terjaga dari tidur siangnya.

“Mama. Papa mana, Ma?” tanya Disha sambil mengguncang-guncang tubuh mamanya.

Mamanya hanya membuka matanya sedikit, kemudian menutup lagi matanya dan menjawab malas-malasan, “Apaan sih, kamu. Mama lagi tidur, kok kamu ganggu sih.” Protes mama.

“Ya ampun, Ma. Ini tuh urusan penting. Papa kemana sih?” tanya Disha lagi, tak berhenti  mengguncang tubuh mama.

“Papa belum pulang. Udah sana keluar. Mama masih ngantuk.”

Disha berdecak geram.

# # #

Disha bagai disambar petir ketika mendengar kabar yang disampaikan papa tiga hari setelahnya.

“Maisarah, istri Pandu, masuk ke rumah sakit.”

“Apa?” pekik Disha panik. “Pa, dia kenapa?”

“Papa juga nggak tau. Yang papa tau tadi mama telepon nemenin Maisarah, mama bilang si Maisarah itu masuk rumah sakit.” Ujar papa.

“Kok mama bisa nemenin Sarah?”

“Si Maisarah itu yang minta mama bawa dia ke rumah sakit.”

“Sarah sakit apa, Pa?” tanya Disha, walaupun dia takut mendengar jawabannya.

“Papa nggak tau. Yang jelas papa disuruh mama kasih tau suaminya dan kita disuruh susul ke sana.”

“Jadi papa udah kasih tau Si Pandu itu?” jerit Disha tertahan. Papa mengangguk.

“Ya ampun, Papa. Masalahnya makin besar, dong. Pasti yang bikin Sarah masuk rumah sakit itu Si Pandu itu. Dia selama ini udah nyiksa Sarah lho, Pa.” kata Disha dramatis.

“Kamu jangan ngawur. Kok kamu bisa bilang begitu?” papa menyipitkan matanya tak percaya.

“Ya ampun, Pa. Aku tuh sering banget dengar Pandu marahi Sarah, teriaki Sarah, sampai-sampai kejar-kejar Sarah ke lantai dua gitu. Aku yakin banget deh, Pa, kalau Si Sarah itu sering banget dipukul sama Pandu. Di sebelah rumah kita, ada kasus kekerasan dalam rumah tangga. Biar papa percaya, kita pergi ke rumah sakit sekarang. Aku yakin banget badan Sarah penuh luka-luka, sampai-sampai mesti ke rumah sakit segala.” Ucap Disha histeris. Papa tidak menolak ketika Disha menarik papa untuk pergi ke rumah sakit secepatnya

# # #

Pemandangan pertama ketika Disha masuk ke kamar UGD rumah sakit adalah Sarah yang berbaring lemah. Tangan kanannya digenggam oleh Pandu. Mama Disha sedang duduk di pojok ruangan. Sarah memang kelihatan pucat dan lemas tetapi tidak ada luka-luka di tubuhnya. Disha tidak banyak komentar. Setelah mendengar pembicaraan mama-papa-Pandu barulah Disha syok berat.

Sarah hamil, dan dia masuk ke rumah sakit karena pendarahan! Tapi keadaan Sarah sudah membaik.

“Hah?” pekik Disha. Semua wajah melihat ke arahnya.

“Tapi, bukannya di rumah kalian ada kekerasan dalam rumah tangga?” ceplos Disha, lalu dia menutup mulutnya. Keempat pasang mata melotot tak percaya.

“Kamu apa-apaan sih, Sha?” suara mama lembut tetapi terdengar berbahaya. Matanya melototi Disha. Biasanya Disha mengartikan, jangan bicara macam-macam!

“Abisnya aku sering banget dengar Pandu marahin Sarah, teriakin Sarah. Apalagi tiga hari yang lalu aku dengar Pandu kejar-kejar Sarah abis teriakin Sarah.” Ucap Disha membela diri. Dia tidak mau jika dianggap mengada-ada.

Pandu dan Sarah saling pandang.

“Mungkin…” ucap Pandu ragu, “… yang kamu dengar itu waktu Dinda ngerjain saya.” Pandu tersenyum, “Tiga hari yang lalu saya ulang tahun. Dinda ngerjain saya sampai buat saya sebal. Pas saya lagi sebal-sebalnya dia malah kasih kue trus ngucapin selamat ulang tahun. Gemas karena baru tau dikerjai, kami sampai kejar-kejaran ke lantai dua.”

Disha melotot tak percaya. Sedangkan yang lain hanya tersenyum.

“Aku ini orangnya ceroboh banget, Sha. Mas Pandu sering banget wanti-wanti, takutnya aku sendiri yang terluka akibat kecerobohanku sendiri. Mungkin bagi kamu agak terdengar lain, ya? Maaf kalau bikin suuzon.” tutur Sarah pelan.

“Mungkin ini peringatan bagi Kanda juga ya? Biar jangan terlalu sering marahi Dinda. Apalagi neriaki Dinda. Maafin Kanda ya.” Pandu berbicara dengan Sarah pelan. Tapi Disha masih bisa mendengarnya. Sarah hanya tersenyum kecut mendengar tuturan suaminya.

Disha masih bergeming. Dia tak menyangka jika jalan ceritanya seperti ini. Mengapa dia bisa berpikir bahwa terjadi kekerasan dalam rumah tangga Sarah. Apakah karena Disha terlalu banyak membaca buku detektif sehingga dia menyimpulkan kejadian yang aneh-aneh?

“Makanya, Sha. Kamu jangan punya pikiran yang aneh-aneh. Si Sarah itu dia nurut sama suaminya. Memangnya kamu, selalu nggak mau dengar apa yang mama bilangin. Kamu harusnya banyak belajar dari Sarah.” kali ini sang mama yang berkomentar. Disha cemberut.

Lampuuk Hari Ini

February 20, 2010

Lagi mellow ni. Lagi di pinggir pantai, dengar suara ombak, suara banana Boat yang lagi berlomba-lomba jatuhin penumpangnya, lagi dengar suaranya Connie Talbot dari laptop tercinta. Nggak mengiyakan ajakan Desy, Eva, Ita, Imul, Ulfa, Topik, dan Nuri untuk mandi laot (Sorry ya guys, sampe-sampe suasana agak ‘berat’ tadi). Di sekeliling aku dari tadi banyak berseliweran cowok cakep lho, hwe he he.

Kalo gini jadi pengen datang kemari bareng ****i. Kalo memang bisa datang kemari bareng dia dan kawan-kawan, pertama kali aku ajak dia ke lintasan off road yang ada di dekat-dekat sini. Pasti mereka senang banget deh. Trus kuajak mereka naik banana boat, seru-seruan main jet ski. Trus, karena di sini Banda Aceh, aku ajak deh ke peninggalan-peninggalan tsunami: museum tsunami, PLTD Apung, ke pantai ulee lheu. Hiyaaa….

Aku sendiri bukan tipe cewek petualang sebenarnya. Tapi kalo dipikir-pikir, jadi cewek yang simple dan nggak mau repot juga nggak asik. Hidup dataaarr… aja. Jiah, ngebosenin. Makanya belakangan ini aku jadi ketagihan ngelakuin hal-hal yang memacu adrenalin. Mungkin karena sejak awal aku diberi sifat yang kadang-kadang suka nekat, hal-hal itu nyantai aja kekerjain. Semacam usaha untuk mendominankan yang resesif.

Ah, mukaku jadi penuh pasir. Padahal besok aku ke pantai lagi. Kalo hari ini temanya ‘ke pantai bersama teman kampus’, besok adalah ‘ke pantai bersama teman-teman alumni SMA’. Ho ho ho. Bedanya besok aku bakal jadi panitia gitu deh. Bakal capek banget deh, fuih.

BTW orang ni pada kemana ya? Ngekor ah…

Well, cerita ini berlanjut.

Baru bisa upload malam harinya.

Tadi aku sukses diajak mandi laut sama orang ini. Hebat banget memang temanku itu kalo dibagian ilmu olah-mengolah. Aku (yang kupercaya sebagai orang berpendirian kuat) bisa diajak mandi laut yang seharusnya nggak ada di dalam planning-ku. Dengan seribu alasan: mau pergi les, nggak bawa baju ganti, phobia air, nggak ada yang menghentikan ajakan mereka.

Dan akhirnya, aku mandi laut!