Bagaimana Jika Kau Dihadiahi Dirimu Sendiri?

Beberapa hari yang lalu teater kami kedatangan tamu. Kurang lebih dia ngomong sesuatu sampe-sampe aku kepikiran kalimat di atas: Bagaimana kalau kau diberi hadiah dirimu sendiri.

Dalem banget nggak sih, kalimatnya?

Paling aku berpikir, kalimat itu kalimat sederhana yang buat kita itu bercermin, ngaca, atau kalimat kerennya, berefleksi. Ngerasa nggak sih, kalo kalimat itu kalimat yang tercipta setelah seseorang melakukan kontemplasi tingkat tinggi (nah lo, keluar lagi diksi favorit si Desy).

Oke, mari kita kontemplasi.

Sebagai seorang manusia, apapun keadaan kita sekarang, kita pasti susah mendefinisikan diri kita. Setuju nggak? Manusia itu emang paling susah “ngeliat” diri sendiri. Apalagi ngeliat kejelekan sendiri. Yang ada dimatanya, orang lain aja. Manusia tu selalu ngerasa paling betul. Sadar atau nggak, emang itulah keadaan yang terjadi sekarang. Coba deh, sekali-kali amati. Misalnya kalo lagi asik ngumpul ama kawan, yang dominan kita certain keburukan orang lain. Walaupun judul besarnya “curhat” (dimana-mana curhat itu kan pasti ceritain diri sendiri. Nggak pernah ada cerita kita curhat perasaan orang lain), ujung-ujungnya kita suka pake kalimat, “dia ngatain aku egois. Aku kan cuma nggak anggap dia sekali. Iya kan?” Plus biasanya kawan kita tu pasti angguk-angguk. Seklai lagi, nggak ada cerita kalo kita tanyain kae gitu, teman kita geleng-geleng.

Nah, di situlah semua bermulai. Bagaimana kalau kau dihadiahi dirimu sendiri.

Sekarang mari kita berandai-andai. Pakai imajinasi terliar kita. Andaikan kamu (dalam konteks lain, akan menjadi kita) diberi hadiah, dan hadiahnya itu adalah diri kamu sendiri. Kan biasanya kita happe tuh kalo diberi hadiah. Tapi masih tetap hepi nggak, kalau hadiahnya itu kamu sendiri. Kontemplasi kita akan berlanjut dari jawaban apa yang kita beri.

Bagaimana kalau kau diberi hadiah dirimu sendiri?

Kalau jawabannya: aku akan senang, aku akan gembira, aku akan merasa sangat beruntung, artinya kita bisa menilai diri kita cukup baik.

Tapi bagaimana kalau jawabannya: ah, malas banget aku. Apa untungnya dapat hadiah kae gitu. Apa nggak ada hadiah yang lebih bagus.

Teman-teman, bagaimana kalau jawabannya kae gitu?

Kontemplasi. Kontemplasi. Kontemplasi.

Apakah kita seburuk itu? Apakah kita jelek sekali sehingga kita ditolak bahkan oleh kita sendiri? Mari berpikir, “jika aku sebuah hadiah, apakah orang lain akan bahagia mendapat diriku?”

Sepertinya pertanyaan itu harus ditanyakan pada diri sendiri berulang-ulang. Karena banyak manusia yang tidak cukup berbesar hati untuk menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Kayak yang aku bilang, pertanyaan itu dalem banget loh. Nggak semua orang bisa menjawab dan saatnya mengubah diri kita menjadi hadiah yang menyenangkan jika kita rasa kita tak cukup menyenangkan sebagai hadiah. Pertanyaan seperti itu bisa menjadi titik tolak untuk bisa menjadi lebih baik.

Jadi, bagaimana kalau kau diberi hadiah dirimu sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: