Detektif Pinggir Jalan

Ada keluarga baru yang pindah ke sebelah rumah Disha. Kabarnya sih, pasangan pengantin baru. Disha langsung membayangkan seorang wanita karir yang anggun dan suaminya yang gagah dan mapan. Tapi ketika pasangan itu datang ke rumah Disha—dalam rangka mengucapkan salam kepada tetangga baru—mereka masih muda kok. Si suami umurnya masih 26 tahun. Dia bekerja sebagai dosen di univesitas yang sama dengan universitas Disha, tetapi di fakultas lain. Sedangkan istrinya—yang bernama Maisarah—masih mahasiswa S1. Umur Maisarah hanya setahun lebih tua dari Disha. Melihat Maisarah mengingatkan Disha akan wanita-wanita Arab yang berkerudung lebar dan menutupi seluruh tubuhnya dengan kain. Sebenarnya Disha sangat anti dengan orang-orang yang gaya berpakaiannya seperti itu. Tapi melihat wajah teduh Maisarah, Disha jadi berubah pikiran.

Hari ini Disha melengos ketika mendapati rumahnya terkunci. Duh, mama lama banget pulangnya sih. Nggak biasa-biasanya belanja tapi lupa nitip kunci rumah gini, batinnya resah. Sudah jam dua belas, tetapi mama belum kelihatan batang hidungnya. Karena tidak sabar menunggu di teras rumah, Disha akhirnya berjalan mondar-mandir di jalan depan rumah. Dia tidak menyadari Maisarah berjalan pulang.

“Assalamu `alaikum, Sha. Kok nggak masuk ke rumah?” sapa Maisarah lembut ketika mendekati Disha.

“Oh, hai Sarah. Mama pergi, nggak ninggalin kunci. Aku nggak bisa masuk rumah nih.” jawab Disha mencoba ramah. Walaupun Sarah itu sudah bisa dianggap ibu rumah tangga, paling tidak dia masih berumur 21 tahun. Usianya tak jauh berbeda dengan Disha.

“Masuk ke rumahku aja yuk. Kan di sini panas.” Ajaknya Sarah. Disha menimbang sejenak. Benar juga sih, dari tadi dia kepanasan. Akhirnya Disha memasuki rumah Sarah.

Rumah Sarah lebih kecil dari rumah keluarga Disha, walau sama-sama bertingkat dua. Tidak ada sofa di ruang tamunya, hanya sebuah meja dan satu set kursi dari kayu. Disebelah ruang tamu ada ruang keluarga yang bersambung dengan dapur. Di ruang keluarga, ada sebuah foto besar Sarah dan suaminya di dalam pigura cantik. Di bawah foto itu ada foto-foto yang ukurannya lebih kecil. Jika melihat ekspresi wajah mereka, sepertinya Sarah dan suaminya adalah pasangan kompak plus gokil.

“Itu foto kami di rumah keluarga Mas Pandu,” ucap Sarah, dia baru saja dari dapur sambil membawa dua gelas minuman. “keluarga Mas Pandu itu keluarga besar. Aku paling senang kalau pulang ke sana. Mas Pandu punya banyak keponakan.”

“Memangnya kalian sebelum nikah, pacarannya berapa lama sih? Kayaknya udah akrab banget.” tanya Disha. Sarah mengernyit.

“Kami nikah sekitar tiga bulan yang lalu, sebelumnya aku nggak pernah kenal dia.” jelasnya. Kali ini Disha mengernyit.

“Trus kok bisa nikah?”

“Dulu murabbiku nanya, apakah aku siap nikah atau tidak. Rupanya ada seseorang yang melamarku lewat murabbiku. Setelah istikarah, aku menerima lamaran Mas Pandu.”

Disha ingin menanyakan apa itu murabbi dan istikarah, namun suara dering telepon mengurungkan niatnya. Sarah menjawab telepon itu.

Suamimu?” tanya Disha ketika Sarah menutup teleponnya. Dia mengangguk.

“Kanda… eh, Mas Pandu ada jadwal mengajar sampai nanti sore. Katanya aku tinggal di rumah saja sampai dia pulang, jangan keluar rumah.” ujar Sarah.

“Lho? Kalo kamu ada perlu dan mesti keluar gimana?” tanya Disha heran. Sarah tersenyum dan mengatakan insya Allah dia tidak perlu keluar sampai nanti sore.

“Eh, udah azan, shalat yuk.” ajak Sarah.

Disha menarik kedua ujung bibirnya dan berkata, “Lagi M.”

# # #

Disha sedang membaca buku Agatha Cristy ketika mendengar suara menggelegar dari sebelah rumah,

“Dinda!”

Disha langsung bisa menyimpulkan suara itu merupakan suara suami Sarah, Si Pandu itu. Tapi yang membuat Disha kaget dan heran mengapa Si Pandu itu berteriak. Disha menyibak gorden jendela dan berusaha melihat kepada jendela-jendela rumah pengantin baru. Tak terjadi apa-apa.

Baru saja Disha berbalik dan mulai membaca kembali ketika sayup-sayup terdengar suara orang marah-marah. Disha kembali menyibak gordennya. Masih tak terlihat apa-apa, tetapi suara marah-marah makin jelas terdengar.

“… jangan ditingalin dong. Coba kalau nggak cepet-cepet, pasti udah rusak…”

“Maaf, Kanda. Tadi Dinda ke belakang sebentar. Trus kelupaan…”

“Itu dia makanya. Lain kali kerjain sesuatu itu satu-satu…”

Disha melongo. Si Pandu itu marah-marah kepada istrinya? Kok tega banget sih. Istrinya patuh dan baik begitu, malah diteriaki. Atau apa mungkin suaminya termasuk orang yang kasar ya? Disha menggeleng lalu melanjutkan lagi membaca buku.

Sore hari setelah kejadian Si Pandu marah-marah, Disha melihat Sarah masih oke-oke saja. Padahal di dalam bayangan Disha, Sarah mungkin sudah dipukuli oleh Si Pandu itu karena keteledoran-entah-apa. Pikiran Disha sudah dipenuhi oleh pikiran-pikiran liar.

Saat ini Disha baru saja pulang dari kampus. Dia sedang menelusuri jalan demi jalan agar sampai ke rumahnya. Sudah sore. Azan ashar sudah berkumandang sejam yang lalu. Ketika dia sudah sampai ke mulut jalan depan rumahnya, Disha memicingkan matanya ke arah rumah Sarah. Dia berharap ada kejadian luar biasa ketika dia melewati rumah tersebut.

Disha sudah hampir membuka pintu pagar rumahnya sendiri, namun tidak ada kejadian istimewa dari rumah berlantai dua itu. Ketika Disha sudah menyerah untuk menunggu, tiba-tiba suara menggelegar itu terdengar lagi,

“Dinda!”

Lalu disusul suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Tak lama ada langkah kaki kedua yang menyusul menaiki tangga sama bergegasnya seperti langkah kaki pertama. Kemudian tak terdengar apa-apa lagi.

Jantung Disha berdetak cepat. Dia berdiri mematung di depan pagar rumahnya, menghadap ke arah rumah Sarah. Dia sudah membayangkan kejadian yang bukan-bukan. Sarah dalam bahaya! Suaminya pasti sedang memperlakukan Sarah dengan kasar. Disha ingin sekali menolong Sarah dari cengkeraman suaminya itu. Tapi apa daya, dia mungkin sama lemahnya seperti Sarah. Dia tidak berani bertindak sendiri.

Disha memandang rumahnya. Oya, mungkin ada papa di rumah. Lalu Disha berlari memasuki rumah dengan cepat. Tidak didapatinya satu manusia pun di ruang tamu. Begitu juga ruang keluarga, dapur, garasi, dan kamar mandi. Akhirnya Disha memasuki kamar mama-papanya. Hanya ada mama yang belum terjaga dari tidur siangnya.

“Mama. Papa mana, Ma?” tanya Disha sambil mengguncang-guncang tubuh mamanya.

Mamanya hanya membuka matanya sedikit, kemudian menutup lagi matanya dan menjawab malas-malasan, “Apaan sih, kamu. Mama lagi tidur, kok kamu ganggu sih.” Protes mama.

“Ya ampun, Ma. Ini tuh urusan penting. Papa kemana sih?” tanya Disha lagi, tak berhenti  mengguncang tubuh mama.

“Papa belum pulang. Udah sana keluar. Mama masih ngantuk.”

Disha berdecak geram.

# # #

Disha bagai disambar petir ketika mendengar kabar yang disampaikan papa tiga hari setelahnya.

“Maisarah, istri Pandu, masuk ke rumah sakit.”

“Apa?” pekik Disha panik. “Pa, dia kenapa?”

“Papa juga nggak tau. Yang papa tau tadi mama telepon nemenin Maisarah, mama bilang si Maisarah itu masuk rumah sakit.” Ujar papa.

“Kok mama bisa nemenin Sarah?”

“Si Maisarah itu yang minta mama bawa dia ke rumah sakit.”

“Sarah sakit apa, Pa?” tanya Disha, walaupun dia takut mendengar jawabannya.

“Papa nggak tau. Yang jelas papa disuruh mama kasih tau suaminya dan kita disuruh susul ke sana.”

“Jadi papa udah kasih tau Si Pandu itu?” jerit Disha tertahan. Papa mengangguk.

“Ya ampun, Papa. Masalahnya makin besar, dong. Pasti yang bikin Sarah masuk rumah sakit itu Si Pandu itu. Dia selama ini udah nyiksa Sarah lho, Pa.” kata Disha dramatis.

“Kamu jangan ngawur. Kok kamu bisa bilang begitu?” papa menyipitkan matanya tak percaya.

“Ya ampun, Pa. Aku tuh sering banget dengar Pandu marahi Sarah, teriaki Sarah, sampai-sampai kejar-kejar Sarah ke lantai dua gitu. Aku yakin banget deh, Pa, kalau Si Sarah itu sering banget dipukul sama Pandu. Di sebelah rumah kita, ada kasus kekerasan dalam rumah tangga. Biar papa percaya, kita pergi ke rumah sakit sekarang. Aku yakin banget badan Sarah penuh luka-luka, sampai-sampai mesti ke rumah sakit segala.” Ucap Disha histeris. Papa tidak menolak ketika Disha menarik papa untuk pergi ke rumah sakit secepatnya

# # #

Pemandangan pertama ketika Disha masuk ke kamar UGD rumah sakit adalah Sarah yang berbaring lemah. Tangan kanannya digenggam oleh Pandu. Mama Disha sedang duduk di pojok ruangan. Sarah memang kelihatan pucat dan lemas tetapi tidak ada luka-luka di tubuhnya. Disha tidak banyak komentar. Setelah mendengar pembicaraan mama-papa-Pandu barulah Disha syok berat.

Sarah hamil, dan dia masuk ke rumah sakit karena pendarahan! Tapi keadaan Sarah sudah membaik.

“Hah?” pekik Disha. Semua wajah melihat ke arahnya.

“Tapi, bukannya di rumah kalian ada kekerasan dalam rumah tangga?” ceplos Disha, lalu dia menutup mulutnya. Keempat pasang mata melotot tak percaya.

“Kamu apa-apaan sih, Sha?” suara mama lembut tetapi terdengar berbahaya. Matanya melototi Disha. Biasanya Disha mengartikan, jangan bicara macam-macam!

“Abisnya aku sering banget dengar Pandu marahin Sarah, teriakin Sarah. Apalagi tiga hari yang lalu aku dengar Pandu kejar-kejar Sarah abis teriakin Sarah.” Ucap Disha membela diri. Dia tidak mau jika dianggap mengada-ada.

Pandu dan Sarah saling pandang.

“Mungkin…” ucap Pandu ragu, “… yang kamu dengar itu waktu Dinda ngerjain saya.” Pandu tersenyum, “Tiga hari yang lalu saya ulang tahun. Dinda ngerjain saya sampai buat saya sebal. Pas saya lagi sebal-sebalnya dia malah kasih kue trus ngucapin selamat ulang tahun. Gemas karena baru tau dikerjai, kami sampai kejar-kejaran ke lantai dua.”

Disha melotot tak percaya. Sedangkan yang lain hanya tersenyum.

“Aku ini orangnya ceroboh banget, Sha. Mas Pandu sering banget wanti-wanti, takutnya aku sendiri yang terluka akibat kecerobohanku sendiri. Mungkin bagi kamu agak terdengar lain, ya? Maaf kalau bikin suuzon.” tutur Sarah pelan.

“Mungkin ini peringatan bagi Kanda juga ya? Biar jangan terlalu sering marahi Dinda. Apalagi neriaki Dinda. Maafin Kanda ya.” Pandu berbicara dengan Sarah pelan. Tapi Disha masih bisa mendengarnya. Sarah hanya tersenyum kecut mendengar tuturan suaminya.

Disha masih bergeming. Dia tak menyangka jika jalan ceritanya seperti ini. Mengapa dia bisa berpikir bahwa terjadi kekerasan dalam rumah tangga Sarah. Apakah karena Disha terlalu banyak membaca buku detektif sehingga dia menyimpulkan kejadian yang aneh-aneh?

“Makanya, Sha. Kamu jangan punya pikiran yang aneh-aneh. Si Sarah itu dia nurut sama suaminya. Memangnya kamu, selalu nggak mau dengar apa yang mama bilangin. Kamu harusnya banyak belajar dari Sarah.” kali ini sang mama yang berkomentar. Disha cemberut.

Tags: , , ,

2 Responses to “Detektif Pinggir Jalan”

  1. Andey Says:

    salah kaprah rupa’a si sha tu…
    ra.. bilang bntar sama si sha tu jngan sensitif x jadi orang..
    ckckcck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: