Duga

Minibus itu berhenti lagi. Yani menggerutu dalam hati. Memang inilah nasib memakai jasa minibus. Sang supir akan dengan seenak hati menghentikan minibus dimanapun dia suka untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Sedangkan nasib penumpang-penumpang yang mempunyai tujuan sampai akhir, mau tidak mau harus meng-ikhlas-kan perjalanannya lebih lama.

Seperti Yani. Dia sudah berkali-kali melihat arlojinya, memastikan pada pukul berapa dia akan sampai ke tujuan. Sebenarnya dia sudah tidak tahan berada di dalam minibus ini lama-lama. Posisi tempat duduk Yani lah penyebabnya. Memang Yani berada di sebelah jendela samping minibus, tetapi jendela itu sudah macet sehingga tidak bisa dibuka lagi. Jadilah dia sedari tadi bermandikan keringatnya sendiri. Suhu udara khas siang hari memanaskan badan serta emosinya.

Dengan gondok, Yani mengipasinya wajahnya dengan buku tipis yang tadi ditemukannya di dalam tas. Ingin sekali dia berteriak kencang di telinga supir agar segera menjalankan minibus. Dilihat ke arah mana pun, tidak ada calon penumpang. Akan tetapi si supir tetap ngotot menunggu. Mungkin dia mengira tiba-tiba akan ada penumpang yang turun dari langit. Berulang kali Yani mendecak kesal.

“Udah lah. Sabar aja, kenapa sih?” kata Kak Meli, kakak Yani yang juga menjadi teman perjalanan Yani hari ini.

“Ya ampun, panas banget! Supirnya kok nggak peka banget sih. Memangnya yang punya kepentingan dia aja.” ucap Yani geram. Tangannya masih sibuk mengipas.

Kak Meli tidak menyahut. Yani menoleh dan mendapati kakaknya duduk bersandar dengan mata tertutup. Posisi bagus untuk tidur.

“Ya ampun, Kak. Kok bisa-bisanya tidur, sih?” cerca Yani tak percaya.

“Daripada ngomel-ngomel nggak jelas kayak kamu.” sahut Kak Meli tanpa membuka kelopak matanya. Yani berdecak sekali lagi. Beribu sumpah serapah telah bergerumul di otaknya.

Minibus itu belum lagi bergerak. Rupanya supir melihat calon penumpang yang jaraknya masih sekitar seratus meter di depan. Yani mengikuti arah pandangan sang supir. Menurut Yani, memikirkan selain panasnya hawa udara saat ini akan membuat emosinya yang dari tadi mau meledak sedikit menurun.

Ketika sudah agak dekat, Yani bisa melihat wajah-wajah calon penumpang itu. Ada lima orang. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Sepertinya umur mereka tidak berbeda jauh dari Yani. Paling tidak Yani masih lebih muda setahun atau dua tahun. Begitu melihat rombongan yang sepertinya tanpa hijab itu, otak Yani sudah dipenuhi pikiran-pikiran lain.

Mereka sudah menaiki minibus dan menempati deretan bangku belakang. Tempat duduk mereka persis di belakang tempat duduk Yani dan Kak Meli. Yani dan setidaknya, Kak Meli, bisa mendengar pembicaraan mereka. Minibus mulai berjalan pelan.

“Untung dapat minibus yang kosong. Kalau nggak, kita bisa aja nongkrong di pinggir jalan sampai sore.” tutur salah satu dari mereka, laki-laki yang rambutnya agak gondrong.

“Elu sih Sam. Udah minjem mobil tua bokap, pastiin mesinnya oke kek. Malah mogok.” ujar yang perempuan yang memakai baju kuning, menyenggol tangan laki-laki yang rambutnya dicat merah.

“Lho, bukannya lo yang ngotot berangkatnya hari ini? Seharusnya hari ini mobil itu gue bawa ke bengkel dulu.” elak laki-laki yang dipanggil Sam.

“Udah deh. Jangan pada nyalah-nyalahin. Ocha, ntar kalau udah mau sampai, kasih tau ya. Lo kan yang paling hafal tempatnya.” ujar laki-laki yang memakai kaus putih. Sebagian bajunya sudah basah dengan keringat.

Yani sudah duduk tenang sekarang. Dia ingin mendengar lebih banyak lagi. Dari pembicaraan tadi, Yani sudah mengambil kesimpulan bahwa mereka hendak ke suatu tempat dengan mengendarai mobil ayah Sam. Namun mobil tersebut mogok sehingga mereka harus melanjutkan perjalanan dengan minibus ini.

Lalu rombongan itu mulai berbicara tentang sesuatu yang tak bisa disimpulkan oleh Yani. Sepertinya tentang acara otomotif yang hebat.

“Heh, jangan suka nguping pembicaraan orang.” Kak Meli menegur Yani pelan.

“Sssttt. Enak aja nguping. Menyimak, tau.” bela Yani tak kalah pelan. Dia tidak berhenti mendengar pembicaraan di belakang.

“Memangnya apa untungnya sih, tau urusan orang lain? Dasar Miss want to know.” cecar Kak Meli tajam. Yani sampai menjadi berubah pikiran mendengar kalimat kakaknya. Wajahnya cemberut.

“Kak, taruhan deh. Pasti yang belakang itu jenis anak-anak jaman sekarang yang hobinya hura-hura. Liat tuh, mereka berani pergi dengan lawan jenis. Kalau aku yang kayak gitu, duluan digorok mama dulu deh.” kata Yani tak lama. Wajahnya dibuat seekspresif mungkin.

“Kok bisa kamu ngomong gitu?” tanya Kak Meli tak begitu peduli.

“Liat aja gaya mereka, omongan, segala macam. Ketahuan banget, lagi. Sifat khas dari mereka, yang aku tahu, sombong, semau gue, sengak, hura-hura, foya-foya, nggak punya rasa hormat. Pokoknya yang jelek-jelek deh.” tutur Yani pedas.

“Pikiran kamu kok jahat banget sih? Kakak bilang ya, nggak semua orang sama yang seperti kamu pikirkan. Setiap orang itu, sekalipun terlihat banyak kekurangannya saja, pasti punya kekurangan dan kelebihan. Kamu jangan berburuk sangka gitu dong. Lama-lama kamu jadi orang pesimis, lho. Kalau kamu berburuk sangka sama orang, orang juga bakal berburuk sangka sama kamu. Kamu mau, disangka orang sebagai anak yang bukan-bukan?” ucap Kak Meli.

“Tentu aja enggak.” Jawab Yani cepat.

“Kalau gitu jangan pernah lagi berburuk sangka sama orang. Ingat Yan, buruk sangka itu nggak ada enaknya. Malah bikin dosa.” sambung Kak Meli lagi.

Yani tidak begitu saja berbesar hati mendengar nasihat kakaknya. Lama setelah itu, dia malah berujar, “tapi kalau untuk anak-anak di belakang itu, aku yakin banget.”

Kak Meli menghela nafas berat. “Kamu kipas-kipas lagi aja deh. Jangan bahas itu lagi. Susah kalau ngomong sama anak yang keras kepala kayak kamu.” Kak Meli mengambil posisi tidurnya  kembali.

Yani sedikit tidak puas dikatakan sebagai anak keras kepala oleh kakaknya. Begitu melihat kakaknya sudah tak memberikan tanda-tanda untuk membuka mata lagi, Yani memasang telinganya lagi. Dia mendengar rombongan belakang sedang membicarakan hasil rapor masing-masing.

Pasti mereka bodoh-bodoh. Mereka punya tampang malas belajar semua. Apalagi yang rambutnya merah! Batin Yani.

“Gila, nilai gue jeblok. Gue dihukum nggak boleh keluar malam lagi. Merana banget deh.” tukas laki-laki gondrong.

“Sama. Uang saku gue malah dipotong. Untung aja untuk acara hari ini gue masih diijinin.” celutuk perempuan berkawat gigi.

“Kalian gimana sih, udah berteman sama para juara paralel. Bukannya tambah pinter, eh malah dapat nilai jeblok. Elu juga Dit, rumah lo kan dekat sama rumah Sam. Bukannya belajar sama-sama.” kata perempuan berkaus kuning. Laki-laki gondrong itu mendesah keras.

Yani membetulkan posisi duduknya lagi. Salah duga aku! Pekiknya dalam hati. Yani jadi malu sendiri. Untung saja dugaannya itu tidak diberitahukan kepada Kak Meli. Kalau tidak, pasti akan ditertawakan Kak Meli.

Supir sepertinya puas dengan penuhnya bangku penumpang sehingga laju minibus ini lebih cepat. Hawa panas yang tadi dirasakan Yani jadi tak terasa lagi. Selain rombongan di belakang dan Yani, semua penumpang tertidur. Yani melirik arlojinya. Dia dan kakaknya akan tiba mungkin sekitar satu jam lagi.

Seperempat jam kemudian, perempuan berkaus kuning dari rombongan belakang berujar keras, “kiri, Pak!”

Yani menoleh ke belakang. Begitu minibus berhenti, Kak Meli sudah terbangun. “Mereka mau turun?” tanyanya.

Yani merasa tidak perlu menjawabnya. Dia malah melihat ke arah luar jendela, penasaran pada tempat tujuan rombongan itu. Begitu melihat ke arah sebelah kanan sana, Yani mellihat ada lapangan yang sudah didirikan stan-stan yang lumayan besar. Di setiap stan ada banyak jenis mobil yang dipamerkan. Setiap mobil sepertinya sudah dimodifikasi. Namun sepertinya belum banyak pengunjung. Yani membaca spanduk besar yang berada tak jauh darinya.

“’Pameran Modifikasi Mobil Terbesar se-Provinsi’. Wah,  wah. Acara hebat, kita kok nggak tau ya?” komentar Kak Meli.

Penumpang belakang sudah turun. Laki-laki berambut merah membayar ongkos kepada supir. Sedangkan keempat lainnya mendekati seorang laki-laki paruh baya yang kelihatan modis tak jauh dari situ.

“Pak Setooo.” sapa mereka agak bersemangat. Lalu mereka satu persatu sibuk menyalam dan menciumi punggung tangan bapak itu.

“Rupanya jadi juga kalian kerja di sini. Nggak takut liburannya semesternya nggak asyik?” tanya bapak itu ramah kepada mereka.

“Enggak, Pak. Malah kami senang. Selain dapat gaji, bisa liat pameran. Biasanya liburan ngabisin duit, eh sekarang malah dapat duit. Ya nggak, guys?” celutuk perempuan berkawat gigi. Yang lain, ditambah laki-laki berambut merah yang sudah selesai membayar, mengiyakan dengan semangat.

Minibus itu sekarang enggan berjalan lagi. Lagi-lagi sang supir ngotot akan mencari calon penumpang. Rombongan tadi masih asyik saja berceloteh riang dengan bapak yang dipanggil Pak Seto itu. Yani mendesah panjang. Matanya terus-terusan memandangi rombongan. Malah perempuan berkaus kuning menyadari pandangannya. Dia hanya tersenyum membalas pandangan Yani. Yani jadi salah tingkah.

“’Sombong, semau gue, sengak, hura-hura, foya-foya, nggak punya rasa hormat’.” ulang Kak Meli mengutip kalimat Yani. “Kayaknya kamu benar-benar harus belajar agar nggak terlalu sering berburuk sangka, deh. Karena kakak lihat, mereka nggak seperti itu.” tukas Kak Meli tajam. Dia rupanya juga melihat dan mendengar apa yang dilakukan rombongan itu.

Yani menekuk wajahnya. Sebenarnya dia malu sekali. Dugaannya terhadap rombongan itu, sejauh ini, sama sekali salah. Apa benar dia suka berburuk sangka dan langsung menilai orang dari penampilannya saja. Jika memang benar, sebaiknya kebiasaan itu harus dienyahkan. Kalau tidak mau menelan kemaluan yang lebih banyak. Apalagi di depan Kak Meli.

Minibus itu masih belum berjalan. Hawa panas kembali membuncah ke dalam kendaraan tersebut. Kak Meli duduk terkantuk-kantuk. Sedangkan Yani kembali sibuk mengipasi dirinya lagi.*

*cerpen “Duga” yang dimuat di antologi sastra “Lelaki di Gerbang Kampus” diterbitkan oleh Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala.

2 Responses to “Duga”

  1. Mira Says:

    keren….endingnya ok dek🙂

  2. rafebe Says:

    He he he ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: